Thursday, June 21, 2012

HEBAHAN: WACANA WANITA & SYARIAH


PROGRAM: WACANA WANITA DAN SYARIAH

TOPIK: ASPIRASI WANITA ISLAM DALAM TRANSFORMASI UMAT WASATIYAH

AHLI FORUM: PROF. DR HARLINA HALIZAH HJ SIRAJ
                            DR UST HJ ZAHARUDDIN HJ ABDUL RAHMAN
                            USTAZAH MAZNAH DAUD
                            PROF. DR NAJIBAH MD ZAIN

TARIKH: 24 JUN 2012 (AHAD)

MASA: 8.00 AM - 12.30PM

TEMPAT: WISMA FELCRA, SETAPAK JAYA

YURAN: RM15 (DEWASA)
                RM10 (PELAJAR)

ANJURAN BERSAMA:
PERTUBUHAN IKRAM WILAYAH PERSEKUTUAN 
DAN FELCRA.
SEMUA DI JEMPUT HADIR

Wednesday, April 18, 2012

SEDARKAH KITA TIGA BULAN LAGI RAMADHAN? (Siri 1)

Waktu terus berlalu. Hari demi hari, silih berganti. Tanpa sedar, kita telah sampai ke hari ini. Kesibukan dan aktiviti kita yang menumpuk telah membuat kita 'kehilangan kesedaran'. Ya, kesedaran tentang waktu, di mana kita sedang berada dan waktu yang akan kita hadapi.

Hari ini, waktu yang terus berlalu itu hampir menyempurnakan kembali pusingan satu tahunnya. Rasanya, belum terlalu lama kita bersama dengan bulan Ramadhan; melakukan berbagai aktiviti ibadah di dalamnya... Kemudian Ramadhan pergi, Syawal hadir. Setelah itu kita mulai menjalani rutin hidup kita, sibuk dengan kerja, keluarga dan aktiviti seharian. Tiba-tiba, tiga bulan lagi Ramadhan bulan suci nan mulia itu akan kembali bertamu. Muhasabah diri, ternyata tidak banyak yang berubah dalam diri kita setelah menjalani madrasah Ramadhan tahun lalu. Bahkan, mungkin kita masih sama seperti dulu; miskin ibadah, bakhil kebaikan dan punya amal di tahap minima.

Sekarang ini, kesedaran kita sedang diketuk, diingatkan akan kian dekatnya bulan Ramadhan di tengah ketidakberdayaan kita menakluk tuntutan duniawi. Sebab mungkin kita punya hutang puasa yang belum dibayar atau barangkali kita punya prestasi ibadah yang sangat kurang di bulan itu dan kita punya azam untuk memperbaikinya. Tetapi selain itu, sebenarnya ada banyak alasan mengapa kesedaran itu harus kita bangunkan lebih awal.

KESEMPATAN UNTUK 'MEMINTA'
Di riwayatkan dari Anak bin Malik ra, bahawasanya Rasulullah saw setelah memasuki bulan Rejab beliau berdoa, "Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rejab dan Sya'ban dan sampaikan umur kami di bulan Ramadhan." (HR Ahmad dan Thabrani)

Riwayat di atas, memberi isyarat bahawa memohon pertemuan dengan kedatangan Ramadhan dilakukan jauh hari sebelumnya; minima dua bulan dari Rejab hingga Sya'ban. Meskipun hadis ini tidak dapat dijadikan landasan kerana kedudukannya yang di dhaifkan oleh sebahagian ahli hadis, akan tetapi tidak ada salahnya merangkai doa-doa kita dengan doa tersebut, jika memang kita sangat berharap agar Allah swt berkenan mengabulkan impian kita bertemu dengan bulan suci itu. Sebab berdoa bukanlah ibadah mahdhah yang sepenuhnya harus mengikuti lafaz dari Rasulullah saw. Tidak ada dosa berdoa dengan menggunakan bahasa kita sendiri kerana Allah swt Maha Mendengar dan Maha Mengetahui apa sahaja yang kita ucapkan. Tetapi melantunkannya dalam bahasa Arab adalah lebih afdhal. 

Doa yang paling dicintai Allah swt adalah doa yang terus menerus dipanjatkan dalam waktu yang lama tanpa henti. Allah sangat suka mendengar hamba Nya mengulang-ngulangi permintaannya. Tetapi doa bukan sekadar waktu yang lama, bukan pula hanya mengulang-ulang permintaan. Namun kita perlu hal yang lain, iaitu hati yang bersih dan keyakinan akan terkabulnya doa.

Ketika masyarakat Basrah sedang dilanda kemelut sosial, Ibrahim bin Adham rahimahullah, ulama berpengaruh ketika itu berkunjung ke negeri mereka. Masyarakat Basrah pun mengadukan nasib kepadanya, "Wahai Abu Ishak, Allah berfirman dalam Al Qur'an agar kami berdoa. Kami warga Basrah telah bertahun-tahun berdoa, tetapi mengapakah doa kami tidak dimakbulkan Allah?"

Ibrahim bin Adhan pun menjawab, "Wahai penduduk Basrah itu adalah kerana hati kalian telah mati dalam sepuluh perkara. Bagaimana mungkin doa kalian dikabulkan Allah kalau kalian mengakui kekuasaan Allah tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak Nya. Setiap hari kalian membaca Al Quran tetapi kalian tidak mengamalkan isinya. Kalian selalu mengaku cinta kepada Rasul, tetapi kalian meninggalkan perilaku dan sunnah-sunnahnya. Setiap hari kalian membaca ta'awudz, berlindung kepada Allah dari syaitan yang kalian sebut sebagai musuh, tetapi setiap hari pula kalian memberinya makan dan mengikuti langkahnya. Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga tetapi perbuatan kalian justru bertentangan dengan keinginan itu. Katanya kalian takut masuk neraka tetapi kalian justru mencampakkan diri sendiri ke dalamnya. Kalian mengakui bahawa maut adalah keniscayaan tetapi ternyata kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian tidak mampu melihatnya. Setiap saat kalian menikmati kurniaan Allah tetapi kalian lupa mensyukurinya.  Kalian sering menguburkan jenazah tetapi kalian tidak dapat mengambil pelajaran dari peristiwa itu."

Terakhir dia mengatakan, "Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda Nabi, "Berdoalah keapada Allah tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Hanya saja kalian harus tahu bahawa Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan main-main."


Kita harus sedar bahawa kelalaian kita terlalu banyak. Kesibukan kita terlalu beragam.  Kadang satu bulan waktu kita berlalu begitu sahaja tanpa terasa, kerana kesibukan kita. Maka menyedarkan diri kita lebih awal akan datangnya Ramadhan adalah merupakan suatu pengharapan dan persediaan dalam diri kita.

Sementara Ramadhan masih ada tiga bulan lagi, kita masih punya kesempatan untuk memperbanyakkan doa, membersihkan hati, menyucikan jiwa dan meluruskan niat agar doa kita diterima Allah swt.  Mudah-mudahan doa kita yang sekarang, membawa kita untuk menyaksikan kembali terbitnya hilal sebagai petanda masuknya bulan Ramadhan lalu melanjutkan doa kita dengan, "Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini hilal yang membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam serta taufiq kepada segala hal yang dicintai dan diridhai Rabb kami. Rabb kami dan Rabb adalah Allah." (HR Ahmad dan Ad Darimi).

Dan Doa, "Ya Allah, selamatkan aku untuk Ramadhan dan selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untuk ku." (HR Thabrani dan Dailami)

PERSIAPAN YANG LEBIH MATANG AKAN LEBIH BAIK
Jika kita meyakini keutaman dan kemuliaan Ramadhan, tentu kita akan memperlakukannya dengan sangat istimewa.  Kedatangannya akan kita sambut, layaknya seorang tamu agung, raja atau pembesar yang berkunjung ke rumah kita. Dengan penuh rasa gembira dan suka cita, lama sebelum kedatang tamu agung itu, kita tentu telah melakukan berbagai persiapan; menghias rumah, membersihkan halaman, menyiapkan masakan dari makanan-makanan yang lazat dan minuman yang segar untuk di hidangkan. Tujuannya, agar tamu agung itu merasa senang dan nyaman dengan suasana yang kita ciptakan dan merasa dihormati.

Ramadhan adalah tamu agung. Lebih agung dari seorang Raja, mahupun mana-mana pembesar atau dif kehormat dan kerana itu persiapan yang harus kita lakukan juga harus lebih awal, lebih baik, lebih matang, melebihi persiapan kita untuk tamu-tamu kita yang lain.  

Namun begitu, persiapan kita tentu sahaja berbeza, kerana Ramadhan adalah tamu yang tidak 'berwujud'. Menyiapkan hati dan jiwa menjelang kedatangannya itulah yang harus kita lakukan. Persiapan itu adalah dengan cara membersihkan diri, mendekati Allah, menyesali segala perbuatan yang melanggar perintah Nya dan bertekad untuk konsisten dalam melakukan ketaatan kepada Nya. Selain ketaatan dalam ibadah, ada persiapan lain, iaitu memperbaiki hubungan sesama manusia. Hubungan kita dengan orang-orang yang ada di sekitar kita. Hubungan kita dengan suami/isteri, anak-anak,  ibubapa, saudara mara, jiran tetangga, teman-teman dan orang-orang yang kita kenal. Jangan kita mendekati Ramadhan dengan membawa permusuhan. Bersihkanlah diri kita dari hasad, dengki, fitnah, mencela atau menyakiti hari orang lain kerana pahala kebaikan kita akan ditangguhkan sampai orang yang tersakiti itu mahu memaafkan kesalahan kita.  

Yang mesti kita lakukan adalah menebar cinta, kasih dan kebahagiaan di hati orang-orang yang ada di sekitar kita dan mengajak orang lain untuk mempersiapkan diri manghadapi Ramadhan dengan memperbayakkan melakukan amal kebaikan

Makna persiapan ini, sesungguhnya bukan hanya untuk Ramadhan, kerana kita memang harus selalu bersiap, membekali diri dengan banyak amal, kerana kita tidak pernah tahu bila ajal akan menjemput. Ramadhan adalah tamu agung yang akan membuka kesempatan luas untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, tapi apakah Ramadhan akan bertemu kembali dengan kita atau tidak, kita tidak pernah tahu. Maka persiapan kita untuk hari-hari esok sesungguhnya harus selalu dilakukan pada bila-bila masa sahaja, bukan hanya dalam tiga bulan ini. Seterusnya, seterusnya dan seterusnya kerana semakin matang persiapan kita, akan semakin baik buat diri kita.

Bersambung Siri 2
Sumber: Tarbawi Edisi 180
Foto: Google

Saturday, October 29, 2011

KEUTAMAAN 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH

Dari Umar ra, bahawa Nabi saw bersabda: "Tidak ada hari yang paling agung dan amat dicintai Allah untuk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyakkanlah pada saai itu tahlil, takbir dan tahmid" (HR Ahmad, dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu'aib Al Arna'uth)
*************
Bulan Dzulhijjah, yang merupakan bulan yang ke 12 dan bulan penutup kalender hijriyah sudah pun kita masuki. Tahukah kita apakah dia keutamaan dan tuntunan amal di bulan Dzulhijjah? Mari kita simak di bawah ini.
Dari Ibnu Abbas ra dia berkata, Rasulullah saw bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ. يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ : وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ.
“Tidak ada hari-hari yang pada waktu itu amal soleh lebih dicintai oleh Allah melebihi sepuluh hari pertama (di bulan Dzulhijjah).” Para sahabat ra bertanya, “Wahai Rasulullah, juga (melebihi keutamaan) jihad di jalan Allah?” Baginda saw bersabda, “(Ya, melebihi) jihad di jalan Allah, kecuali seorang yang keluar (berjihad di jalan Allah) dengan jiwa dan hartanya kemudian tidak ada yang kembali sedikitpun.” (HR al-Bukhari) 

Dari Jabir bin Abdullah Rasulullah bersabda: “Hari yang paling utama di dunia adalah hari sepuluh Dzulhijjah”. (Shohihul Jami’)

Kerana besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, Allah Ta’ala sampai bersumpah dengannya dalam firman-Nya: وَلَيَالٍ عَشْرٍ “Dan demi malam yang sepuluh.” (Al-Fajr: 2). Iaitu: sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah, menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan Ibnu Rajab, [serta menjadi pendapat majoriti ulama].

Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata, “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah kerana padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), iaitu: solat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.”
Amal soleh dalam hadits ini bersifat umum, termasuk solat, sedekah, puasa, berzikir, membaca al-Qur’an, berbuat baik kepada orang tua dan sebagainya.

Amal soleh yang dianjurkan:
1. Berpuasa 
Berpuasa selama hari-hari tersebut atau pada sebahagiannya terutama pada hari Arafah. Kecuali Hari ke-10 (Aidul Adha). Telah kita ketahui bahwa puasa adalah amalan yang paling utama dan yang dipilih Allah untuk diri Nya. Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri ra, Rasulullah saw bersabda, "Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah, melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun." [Hadits Muttafaq 'Alaih].

Puasa Arafah, adalah puasa pada tarikh sembilan Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi mereka yang tidak menunaikan ibadah haji.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ اْلأنْصَارِيِّ رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ.
Dari Abi Qotadah ra, Rasulullah saw bersabda: "Saya mengharap kepada Allah agar puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa tahun sebelumnya dan tahun yang sesudahnya". (HR. Muslim no. 196, Tirmizdi no.749 dan Ibnu Majah no 1756)

2. Memperbanyakkan Tahlil, Takbir dan Tahmid
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ وَلاَ أَحَبُّ إِلىَ اللهِ الْعَمَلَ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْد
"Tiada hari yang lebih baik dan lebih di cintai Allah ta'ala untuk beramal baik padanya dari sepuluh hari Dzulhijjah, maka perbanyaklah membaca tahlil (Laa ilaaha illallah), takbir (Allahu Akbar) dan tahmid (Alhamdu lillah)".(HR. Ahmad)

Imam Bukhari menjelaskan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah, telah pergi ke pasar pada sepuluh hari Dzulhijjah untuk menggemakan takbir pada khalayak ramai, lalu orang-orang ramai mengikuti takbir mereka.


Ishaq meriwayatkan dari para ahli fiqih pada masa tabi'in, bahwa mereka mengucapkan pada sepuluh hari Dzulhijjah.
اَللَّهُ أَكْبَرُ الَّلهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَالَّلهُ أَكْبَرُ اَلَّلهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
"Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada ilah yang berhak untuk di sembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha besar dan bagi Allah segala pujian.
"
Dan disunnahkan pula mengeraskan suara ketika melantunkan takbir di tempat-tempat umum, seperti di pasar, di rumah, di jalan umum atupun di masjid dan di tempat-tempat yang lain. Allah berfirman:
وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu". (QS. Al-Baqarah: 185).

3. Ibadah Qurban
Qurban adalah ibadah kepada Allah dengan menyembelih seekor kambing atau sepertujuh unta atau lembu pada hari Aidul Adha dan tiga hari tasyriq, iaitu 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Hukumnya sunnah mu'akkadah menurut jumhur ulama. Ibadah qurban bukan kewajiban sekali seumur hidup, tetapi sunnah yang dianjurkan setiap tahun jika dirinya mampu, bahkan Rasulullah saw ketika di Madinah beliau selalu berqurban setiap tahunnya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَال : ضحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا ( متفق عليه
Dari Anas ra berkata: “Nabi saw berqurban dengan dua kambing yang mulus dan bertanduk yang disembelihnya dengan tangannya sendiri ambil mengucapkan takbir, beliau meletakkan kakinya di leher kambingnya. (Muttafaq Alaihi)


"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Al Hajj: 37)


4. Solat Aidul Adha
Dianjurkan untuk menghadiri solat Aidul Adha dan mendengarkan khutbah bagi kaum muslimin yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji. Di antara para ulama yang membenarkan pendapat bahwa solat Eid adalah wajib kecuali adanya uzur yang menyebabkan tidak dapat menghadiri solat eid seperti hujan adalah Imam Ibnu Taimiyah berdasarkan firman Allah: “Maka dirikanlah solat kerana Tuhanmu; dan berkorbanlah” (Al-Kautsar: 2)

Kaum wanita yang sedang haid dan berhalangan dianjurkan juga untuk menghadiri solat ied untuk mendengarkan khutbah. Di antara hikmah disyariatkannya hari eid kerana hari itu adalah hari kebaikan dan kesyukuran. Wallahu a’alam bisshowab.

5. Memperbanyakkan amal soleh dan ibadah sunnah 
Perbanyakkan amal soleh dan ibadah sunnah seperti solat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur'an, amar ma’ruf-nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, bahkan sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. 

Tuesday, October 11, 2011

PROGRAM IKRAM JUNIOR: BADAN SIHAT KAMI KUAT (QOWIYYUL JISMI)

Ahad, 9 Oktober 2011. Suasana pagi di Taman Tasik Ampang Hilir agak berbeza dari biasa. Di satu sudut di bawah redupnya rimbunan pepohonan yang menghijau kelihatan sekumpulan anak-anak berusia antara 5-12 tahun tekun mendengarkan kisah Uwais Al Qorni, seorang tabiin yang Rasulullah ceritakan kepada Saidina Umar dan para sahabat bahawa, doanya Uwais Al Qorni pasti di makbulkan oleh Allah dan dia terkenal kerana ketaatannya dalam berbakti kepada ibunya yang telah tua dan lumpuh. "Untuk menunaikan hajat ibunya yang ingin mengerjakan haji, Uwais telah mendukung ibunya dari Yaman sampai ke Mekah. Ya, Uwais seorang mukmin yang kuat dan sebagai seorang Muslim kita semua juga harus kuat kerana untuk melaksanakan tuntutan ibadah seperti Solat, Puasa, Haji dan sebagainya kita perlukan tubuh yang sihat dan kuat. Begitu juga dalam melaksanakan tanggungjawab kita sebagai anak yang ingin berbakti terhadap ibubapa. Kita perlukan kekuatan jasmani (Qowiyyul Jismi)."

Begitulah penglipur cerita memulakan program Ikram Junior Lembah Pantai dengan tema Badan Sihat, Kami Kuat. Program ini di sertai oleh hampir 30 orang anak-anak (gabungan daerah Lembah Pantai dan Setiawangsa). Walau program bermula agak lewat dari perancangan awal, kerana terdapat beberapa orang anak yang sesat ketika ke lokasi, Alhamdulillah ianya tidak mengganggu mood ceria anak-anak dan para AJK. Mungkin kerana pemandangan Tasik yang indah dan suasana pagi yang cerah, terasa seperti kami ber rihlah. Malah kehadiran kami dan anak-anak yang santai-santai sambil makan bekalan roti dan cereal  sementara menanti ketibaan teman-teman yang lain telah menarik perhatian beberapa orang pengunjung dengan sapaan, "Berkelah ke?" :)

Setelah bercerita kisah Uwais (Show and tell), aktiviti seterusnya adalah hafalan hadis. Dengan gaya khas (rekaan pengarah program) dan suara yang penuh bersemangat anak-anak berulang kali menyebut "Al mukminul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallah minal mu’minid dhaif" (Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah).

Aktiviti seterusnya adalah Explore race. Antara tugasan yang perlu di selesaikan di dalam explore race ini adalah mengupas dan memotong buah epal dan pisang. Alhamdulillah para peserta mendapat bimbingan dari 2 fasi utama, Kakak Nafisah dan Kakak Amirah serta 2 orang fasi bidan terjun jemputan khas iaitu Cikgu Raihan dan Ustazah Zaimah. Aktiviti explore race ini ternyata sangat mencabar dan menguras tenaga para peserta (dan fasilitator juga?). Anak-anak kembali ke check point akhir dengan wajah yang merah kepanasan dan tubuh yang longlai keletihan dan dahaga. Sedar-sedar jam sudah menunjukkan jam 11.45 pagi. Anak-anak mula kelaparan. Berehat sebentar, nasi lemak di hidangkan. Selesai menjamu selera, anak-anak di minta duduk dalam kumpulan.

Aktiviti terakhir adalah aktiviti yang di nanti-nantikan oleh anak-anak. Membuat Salad Buah.  Alhamdulillah, salad buah yang di sediakan sangat simple tapi sedap dan berkhasiat. Anak-anak siap membuat permintaan untuk membawa pulang lagi. Program ini di akhiri dengan penekanan tentang keperluan kita mempunyai tubuh yang sihat serta kepentingan amalan-amalan seperti bangun di awal pagi, mengambil makanan yang berkhasiat dan seimbang serta melakukan senaman secara berterusan untuk memastikan agar tubuh kita sentiasa sihat dan kuat. Di akhir program setiap anak-anak memperolehi cenderahati belon sabun comel dan penanda buku hadis "Al mukminul qawiyyu khairun wa ahabbu ilallah minal mu’minid dhaif".

Alhamdulillah program Ikram Junior ini berakhir jam 12.30 tengahari. Walau anak-anak kelihatan agak letih tetapi jelas terpancar kegembiraan di wajah mereka. Kami para AJK dan fasilitator pun tumpang 'seronok' dan puas kerana secara tak langsung 'tuntutan' beriadah telah dapat dilaksana, sambil menyelam minum air. Moga program ini bermanfaat dan barakah.

(Note: Jazakumullah hu khairan kathira buat semua fasilitator, ibu-ibu dan AJK yang terlibat)



Monday, August 29, 2011

HARI WANITA, HARI RAYA DAN HARI KEMERDEKAAN


PERUTUSAN KHAS SEMPENA HARI WANITA, HARI RAYA DAN HARI KEMERDEKAAN 2011
Hari Wanita, Hari Raya dan Hari Kemerdekaan pada tahun ini bagaikan segugus pulau berkumpul dalam satu bulan di lautan 2011.
Setiap satu pastinya mengandungi erti yang tersendiri, khususnya berkaitan dengan jatidiri wanita.
Justeru, bersempena dengan hari-hari tersebut Wanita IKRAM ingin mengutuskan ucapan dirgahayu buat semua wanita.
Pertama:
Sempena dengan Hari Wanita kali ini, mari kita jadikan sebagai hari memantapkan jatidiri kewanitaan kita. Wanita yang diciptakan oleh Maha Pencipta ‘Azza wa Jalla daripada jasad yang sama dengan lelaki. Diciptakan untuk menjadi pasangan yang serasi, pendamping yang saling kasih mengasihi. Oleh itu, lelaki dan wanita sama taraf. Tiada kelebihan antara satu sama lain kecuali dengan taqwa. Dalam konteks ini, Allah Ta’ala berfirman (maksudnya):
“Dan sesiapa yang mengerjakan amal soleh, dari lelaki atau perempuan, sedang ia beriman, maka mereka itu akan masuk Syurga, dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasannya) sedikitpun.” An-Nisa’: 124
“Sesiapa yang beramal soleh, dari lelaki atau perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya kami akan membalas mereka, dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang mereka telah kerjakan.” An-Nahl: 97
Kedua:
Hari Raya merupakan anugerah Yang Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang berjaya menjalani ibadah puasa selama sebulan. Orang yang berpuasa dengan iman dan ihtisab diampuni dosa-dosanya yang lalu. Lantaran itu Hari Raya  puasa dinamakan Hari Raya fitrah, kerana selepas berpuasa, umat Islam seolah-olah kembali kepada fitrah asal, suci daripada dosa laksana bayi yang baru lahir ke dunia. Justeru, Hari Raya adalah hari untuk kita membuka lambaran hidup baru, melangkah dengan penuh yakin, cergas dan pantas melaksanakan tugas dan tanggujawab yang diamanahkan oleh Pencipta ‘Azza wa Jallla kerana diri tidak lagi terbeban memikul dosa-dosa yang berat, yang menggelapkan hati, fikiran dan perasaan.
“Wahai orang-orang yang beriman, sahut dan sambutlah seruan Allah dan seruan RasulNya apabila Dia menyeru kamu kepada perkara-perkara yang menjadikan kamu hidup sempurna; dan ketahuilah bahawa sesungguhnya Allah berkuasa mengubah atau menyekat di antara seseorang itu dengan (pekerjaan) hatinya, dan sesungguhnya kepadaNyalah kamu akan dihimpunkan.” Maksud al-Anfal:24
Ketiga:
Hari Kemerdekaan disambut oleh seluruh rakyat di peringkat kebangsaan sempena kebebasan negara dari penjajahan Negara Barat. Namun seorang wanita, khususnya muslimah harus melihat erti kebebasan lebih jauh daripada itu. Kebebasan yang hakiki adalah apabila kita bebas dari segala belenggu perhambaan kepada selain Allah, atau dengan kata lain mengikhlaskan ubudiah (pengabdian) dengan tulus ikhlas hanya kepada-Nya semata-mata.
Saat ini masih banyak perkara yang membelenggu dan membelit diri kita sehingga merencatkan pengabdian kita kepada-Nya. Di kalangan wanita ada yang masih dibelenggu cinta dunia, dikongkong budaya leka, jahil, malas dan berbagai-bagai sifat negatif sehingga membenarkan diri diperguna dan dieksploitasi oleh pelbagai pihak.
Maka sewajarnya kita, kaum wanita mengambil kesempatan dengan hadirnya ketiga-tiga  hari yang sangat bererti dan penting ini, untuk mempertingkatkan kesedaran serta komitmen mempertahankan;
1. Jatidiri kewanitaan (menurut kehendak Pencipta ‘Azza wa Jalla);
2. Hak memahami dan melaksanakan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan jatidiri kewanitaan yang selaras dengan syari’at Pencipta.
       3. Erti kebebasan atau kemerdekaan sebenar yang merupakan fitrah semula jadi setiap       insan.
“Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menjadikan kamu (bermula) dari diri yang satu (Adam), dan yang menjadikan daripada (Adam) itu pasangannya (isterinya – Hawa), dan juga yang membiakkan dari keduanya – zuriat keturunan – lelaki dan perempuan yang ramai. Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-yebut namaNya, serta peliharalah hubungan (silaturrahim) kaum kerabat; kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati (mengawas) kamu.” Maksud An-Nisaa’: 1
Ketua Wanita IKRAM Pusat
Ustazah Maznah Daud

Sumber foto: Wanita Ikram 

Tuesday, August 23, 2011

RUNTUHNYA RAMADHAN DI TENGGALAMI TSUNAMI AIDIL FITRI


HARI ini 23 Ramadan 1432 Hijrah. Jika diibaratkan berlumba lari, kita kena memecut lebih laju untuk sampai dulu ke garisan penamat dan muncul juara. Laju yang dimaksudkan ialah meningkatkan amal ibadat tambahan sama ada memperbanyakkan membaca dan menghafal al- Quran, bersedekah, solat sunat malam (tarawih, tahajud, tasbih). Rasulullah SAW beriktikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadan dan menjauhkan diri daripada menggauli isteri-isteri baginda.

Di Malaysia, adakah kita umat Islam meningkatkan ibadat pada 10 akhir berpuasa sebagaimana Rasulullah? Atau sudah masuk ke gear rendah dan memperlahankan amal pengabdian kepada Allah SWT? Semua orang tahu jawapannya. Inilah masanya persiapan untuk menyambut Aidilfitri bertambah ligat. Gedung membeli-belah semakin penuh sendat. Jalan-jalan raya di pusat bandar besar semakin sesak. Bunyi mercun dan bunga api semakin gempita. Kerap kali ledakan mercun bola berhampiran surau memusnahkan kekhusyukkan jemaah yang sedang bersolat tarawih.

Sesungguhnya keghairahan mengimarahkan Ramadan yang amat ketara pada dua minggu pertama mulai lesu apabila Syawal semakin hampir. Lagu-lagu Aidilfitri yang berkumandang di radio dan di pusat-pusat beli-belah turut melonjakkan nafsu untuk beraya dan mengendurkan semangat beribadat yang begitu kental pada awal Ramadan.

Tambahan pula gaji awal dan bonus baru diperoleh. Makin ligatlah otak dan nafsu mencongak jumlah barang yang hendak dibeli. Bukan sekadar kuih-muih, pakaian dan gajet baru, malah ramai juga yang mengintai iklan-iklan kereta untuk pulang ke kampung dengan mobil baru yang mempamerkan peningkatan karier dan kejayaan hidup di kota.

Masing-masing juga telah lama meneliti kalendar, menghitung hari cuti yang layak dipohon. Kerani-kerani yang menjaga rekod cuti juga semakin sibuk melayani permohonan yang bertambah. Bos-bos yang tidak mengatur jadual cuti raya kakitangan mengikut giliran akan pening berhadapan dengan kerenah orang-orang bawah berebut cuti. Yang rambut beruban pun boleh bertukar perangai bagaikan kanak-kanak, sanggup bergaduh kerana berebut cuti. Berapa orangkah yang memohon cuti untuk memberikan lebih tumpuan kepada ibadat pada 10 hari terakhir Ramadan?

Tahap kesabaran juga mulai menurun bersama kehampiran Syawal. Bukan sahaja di jalan raya dan gedung beli-belah, malah di masjid juga terserlah perangai sebenar kebanyakan anak Adam. Barisan saf jemaah solat tarawih mulai menipis. Imam-imam yang memimpin solat juga semakin kerap terlupa ayat al-Quran yang dibaca. Ramai juga yang mempercepatkan bacaan dan pergerakan solat tanpa mengambil kira kecergasan orang-orang tua yang menjadi jemaah setia.

Bersahutan

Makcik-makcik yang bertadarus juga mulai menggesa rakan-rakan mempercepatkan bacaan al-Quran supaya lebih lekas khatam. Ada juga yang mengingatkan rakan-rakan tadarus tentang kumpulan-kumpulan lain yang telah jauh meninggalkan mereka dengan menghabiskan lebih banyak juz. Ketergesaan mengambil tempat kesabaran.

Suasana syahdu menjelang subuh dengan suara-suara merdu bacaan Quran dan tahmid saling bersahutan melalui pembesar suara juga turut lesu bersama tsunami menjelang Aidilfitri. Ada kalanya kita terpaksa menengok jam untuk mendapatkan kepastian tentang waktu subuh kerana mikrofon di masjid dan surau masih membisu walaupun waktu imsak semakin hampir.

Aneh sungguh perangai manusia. Hendak dikatakan pengaruh syaitan, Rasulullah telah menegaskan bahawa syaitan-syaitan dirantai pada bulan Ramadan. Bukan sahaja syaitan-syaitan di rantai, malah Allah SWT telah menyediakan insentif paling istimewa pada 10 akhir Ramadan, iaitu Lailatul Qadar atau malam penuh kemuliaan.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. - Al Qadr 97: 1,2 dan 3.

Diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dari Salman bahawa Rasulullah SAW pada hari terakhir bulan Syaaban berkhutbah di hadapan para sahabat yang bermaksud:

Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang sentiasa besar lagi penuh keberkatan, iaitu bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan; bulan yang Allah telah menjadikan puasaNya suatu fardu dan qiyam di malam harinya suatu tathauwu'. Barang siapa mendekatkan dirinya kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang yang menunaikan suatu fardu di bulan yang lain. Dan barang siapa menunaikan suatu fardu di bulan Ramadan, samalah dia dengan orang yang mengerjakan 70 fardu di bulan yang lain.

Ramadan itu adalah bulan sabar sedangkan sabar itu, pahalanya adalah syurga. Ramadan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah menambah rezeki para mukmin. Sesiapa memberi makanan berbuka kepada seseorang yang berpuasa, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya daripada neraka. Orang yang memberikan makanan berbuka puasa, baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakan puasa, tanpa sedikitpun berkurang (pahala yang berpuasa). Betapa keghairahan persiapan untuk menyambut Aidilfitri telah mengenepikan 'bonus besar' yang sepatutnya diperoleh setiap jiwa yang beriman di bulan Ramadan.

Aidilfitri pertama yang berlangsung pada 1 Syawal tahun 2 Hijrah bergema dengan takbir di seluruh Madinah bagi merayakan kemenangan tentera Islam pimpinan Rasulullah di Perang Badar. Pada hari-hari Aidilfitri seterusnya, takbir dilaungkan tanda kesyukuran atas kemenangan dalam jihad melawan hawa nafsu pada bulan Ramadan. Malangnya pada hari ini, ramai umat Islam terlebih tumpu kepada persiapan untuk menyambut Aidilfitri. Anehnya peperangan melawan hawa nafsu belum habis, kita lebih sibuk dengan persiapan untuk kononnya merayakan hari kemenangan.

Kemenangan apa jika jihad perjuangan sudah kendur pada hari-hari terakhir Ramadan? Ibarat berlumba lari, kita memperlahankan langkah ketika hendak sampai ke garisan penamat setelah begitu pantas memecut pada awal perlumbaan. Inilah fenomena umat Islam di Malaysia pada hari ini. Puasa sebulan, beraya pun sebulan. Hadiah kemenangan yang hakiki berupa rahmat dan keampunan daripada Allah belum tentu dapat, tetapi yang bertambah subur ialah nafsu yang dibajai untuk menyambut Aidilfitri.

Dan turut memeriahkan sambutan ialah budaya yang tidak kena mengena dengan syariat agama. Lagu-lagu raya berkumandang lebih lantang daripada bacaan ayat-ayat suci al-Quran. Bunyi mercun menjelang Aidilfitri lebih hebat daripada gema takbir. Pemberian 'angpau' seolah-olah jadi suatu perkara yang wajib.

Astaghfirullah! Marilah kita kembali kepada landasan yang betul. Berlari kencanglah dari awal hingga ke garisan penamat Ramadan. Pasti kita akan merasai betapa syahdunya takbir di ambang Aidilfitri. Hancur luluh jiwa dan perasaan melaungkan takbir mengagungkan nama Allah Yang Maha Agung. Itulah tanda kemenangan sejati

Photo: Google

Friday, August 12, 2011

MAAFKAN KAMI, RAMADHAN

Maafkan kami Ramadhan. Kepala kami tertunduk malu kerana engkau menjanjikan kami berlimpah kebaikan, tapi kami tenggelam dalam kehinaan" (Syaikh Adil bin Ahmad). Ramadhan... mungkin belum menemukan apa yang seharusnya dia temukan dalam diri kita.
******* 
Hari ini Ramadhan telah bertandang menemui kita selama 12 hari. Dia datang dengan membawa pelbagai 'buah tangan' yang penuh dengan berkah, rahmat, ampunan, dan pengabulan harapan. Selama kehadirannya, apa yang telah kita 'hidangkan' kepada tetamu agung ini?
Mari kita menjengah kembali bagaimana Rasulullah SAW dan orang-orang terdahulu (para sahabat dan salafusoleh), saat mereka meraikan kehadiran Ramadhan, si tetamu agung. Setiap detik kehadirannya, Rasulullah sentiasa menemani dia dengan penuh cinta. Tanpa lelah, baginda hidupkan malam hari dengan shalat dan bermunajat dengan sang pengutus Ramadhan, iaitu Allah SWT. Tanpa berhitung, baginda menemani Ramadhan dengan 'menebarkan' sedekah dan membahagikan rezeki kepada orang-orang miskin dan yang memerlukan. Tanpa jemu, Rasulullah 'berbicara' dengan Ramadhan dalam tasbih dan perkataan yang menyenangkan. .

Mungkin juga, kita perlu belajar dari para sahabat dan salafusoleh yang bersungguh-sungguh ketika mengadakan jamuan bagi Ramadhan yang mulia. Ada Umar Al Khatab ra yang menghidupkan Ramadhan dengan menyalakan lampu-lampu minyak di masjid, untuk mengumpulkan masyarakat bersolat terawih dan tilawah Al Quran sehingga dia di doakan Ali bin Abi Thalib, "Semoga Allah SWT, memberi cahaya kepada kuburmu wahai Ibnul Khattab, sebagaimana engkau memberi cahaya kepada masjid dengan Al Quran." Ada Uthman bin Affan yang khatam Quran setiap hari selama Ramadhan. Ada Imam Malik, Syafie dan Ahmad yang meninggalkan segala aktiviti rutinnya hanya sekadar untuk menjamu Ramadhan yang bertamu pada hari–harinya. 
Bagaimana pula keadaan kita ketika menjamu Ramadhan yang telah meninggalkan kita selama 11 hari lalu? Sudahkah kita berikan yang terbaik buat tetamu agung ini untuk dipersembahkan kepada Allah swt nanti? Jika belum, apakah jamuan yang akan kita persiapkan untuk 18 hari yang masih tersisa. Adakah kita akan terus mengabaikannya dengan tidur dan melalaikan waktu? Adakah kita akan tenggelam dalam pelukan Ramadhan dengan esak tangis memohon keampunan? Adakah kita akan menjamunya dengan amalan – amalan terbaik kita? Tepuk dada tanya iman. Buatlah keputusan segera apa yang akan kita lakukan sebelum dia terlanjur pergi meninggalkan kita dalam penyesalan…

Sekali lagi, mungkin kita harus minta maaf pada Ramadhan. Kerana dia belum menemukan dalam diri kita sesuatu yang seharusnya dia harapkan dalam kehadirannya bersama kita. Sebagaimana dia pernah hadir di tengah -tengah manusia yang memperlakukannya dengan sangat istimewa, yang tidak hanya berhenti di gerbangnya, yang tidak tunduk dan terperdaya oleh musuh hawa nafsu.

Ketikan Ate: Petikan Tarbawi dan Inspirasi Mapple Holic

Tuesday, August 2, 2011




PERUTUSAN KETUA WANITA
PERTUBUHAN IKRAM MALAYSIA
1 Ogos 2011 bersamaan 1 Ramadhan 1432 H
Mudahnya Wanita Merebut Peluang Mengaut Pahala Di Bulan Ramadhan

Wanita IKRAM ingin mengambil kesempatan kehadiran Ramadan tahun ini, mengajak umat Islam umumnya dan kaun wanita khususnya untuk sama-sama menyambut Ramadan dengan penuh kesyukuran dan berazam untuk memanfaatkan kelebihan yang ada padanya sebaik mungkin.
Sesungguhnya bulan Ramadhan telah datang mengunjungi kamu. Bulan penuh keberkatan. Allah S.W.T telah mewajibkan kamu berpuasa dalam bulan ini. Semua pintu syurga dibuka dan semua pintu neraka ditutup. Syaitan-syaitan ditambat. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada 1000 bulan. Sesiapa yang dihalang dari kebaikannya maka sesungguhnya dia benar-benar terhalang.”
Demikian maksud sepotong Hadis Nabi S.A.W. yang diriwayatkan oleh an-Nasa’e daripada Abu Hurairah r.a.
Umum maklum akan kelebihan dan keistimewaan Ramadan. Namun masih ramai di kalangan umat Islam yang tidak peka dan tidak merebut peluang keemasan yang Allah sediakan di dalam bulan yang mulia penuh barakah ini.
Ramadan mensucikan diri dari dosa, mengembalikan kita kepada fitrah, di samping peluang-peluang yang terbuka luas untuk kita, terutama kaum wanita mengaut pahala sebanyak-banyaknya.
Antara  peluang-peluang besar bagi wanita untuk mengaut pahala di bulan puasa ialah:

1. Menguruskan berbuka puasa.
 Tidak kira di mana dan apa bangsa sekalipun, sama ada di bandar atau di desa, rata-ratanya wanita yang menyediakan makanan untuk berbuka puasa seisi keluarga. Nabi s.a.w. telah bersabda (maksudnya):

"Sesisapa yang menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, baginya ganjaran seumpama pahala bagi orang yang berpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahalanya (orang yang berpuasa itu)"
Al-Baihaqi dan Ibn Khuzaimah.

Bayangkan berapa orang ahli keluarga di rumah anda dan sebanyak itu pulalah pahala puasa yang anda dapat jika anda menyediakan makanan berbuka untuk mereka. Ini termasuk hari-hari uzur anda di mana  anda tetap mendapat pahala puasa. Seeloknya sediakanlah makanan itu sekurang-kurangnya buah kurma dan air dengan duit sendiri. Pasti pahalanya berganda, pahala menyediakan dan pahalan infaq. Bagi wanita yang tidak ada pendapatan, mulalah menyimpan untuk infaq pada tahun hadapan jika panjang umur. Kalau umur tak panjangpun, insyaAllah akan diberi pahala juga kerana telah berniat. Namun demikian perlu juga diingatkan supaya kita tidak berlebih-lebihan dan elakan pembaziran di dalam menyedialkan juadah berbuka.



2. Mengajak dan Menyediakan Sahur.
 Seringkali seorang ibu, iaitu seorang wanitalah yang mengejutkan ahli keluarga untuk bangun sahur. Bersahur adalah antara sunat-sunat puasa yang besar pahalanya. Nabi s.a.w. bersabda (maksudnya):
"Barsahurlah kamu semua, sesungguhnya dalam sahur itu ada barakah".
Al-Bukhari dan Muslim.

Dengan mengajak dan membantu orang lain berbuat perkara sunat, iaitu perkara yang baik kita juga akan mendapat pahala orang yang melakukannya. Subhanallah.
3. Suami beriktikaf di masjid pada malam-malam 10 terakhir Ramadhan.
Ramai di kalangan wanita yang berkesempatan ikut beriktikaf di masjid bersama suami. Namun lebih ramai yang tidak berpeluang kerana tanggungjawab terhadap keluarga dan anak-anak. Sungguhpun begitu, wanita tetap berpeluang untuk meraih pahala dengan berniat untuk turut serta jika ada peluang. Dan dengan menolong menyiapkan keperluan suami pergi beriktikaf dan dengan menjaga ahli keluarga di rumah, kaum wanita akan tetap berkongsi pahala dengannya. Nabi s.a.w. bersabda (maksudnya):

"Sesiapa yang mempersiapkan seorang pejuang, maka sesungguhnya dia telah berjuang. Dan sesiapa yang menjaga dengan baik ahli keluarga seseorang yang pergi berjuang, maka sesungguhnya dia juga telah berjuang".
Al-Bukhari dan Muslim

Bukankah suami pergi beriktikaf di masjid itu satu perjuangan untuk menjejaki Lailatul-Qadar yang lebih baik daripada 1000 bulan?

Perkara-perkara di atas hanyalah merupakan sebahagian sahaja dari peluang merebut pahala yang ditawarkan di bulan Ramadhan. Ianya tidak termasuk amalan-amalan fardi yang dilakukan oleh wanita itu sendiri seperti puasa, tarawih, baca al-Quran, berdoa, berzikir, menghubungkan silatul-rahim dan lain-lain. Peluang yang begitu besar Allah swt tawarkan dan tiada alasan untuk kita tidak merebutnya.

 Adapun syarat untuk kita mendapat ganjaran hebat itu adalah:
  1. Beriman dan mentauhidkan Allah dengan semurni-murninya. Elakkan sebarang syirik yang nyata dan tidak nyata;
  2. Ikhlaskan niat dengan setulus-tulusnya. Jangan mengharap ganjaran atau pujian manusia; dan
  3.  Betulkan amalan mengikut prinsip Syariat dengan selurus-lurusnya. Jauhkan bid'ah, ikut-ikutan atau beramal dalam kejahilan.



Ustazah Maznah Daud
Ketua Wanita
Pertubuhan IKRAM Malaysia

Monday, August 1, 2011

Ahlan Wasalan Ya Ramadhan Kareem

Wanita IKRAM Wilayah Persekutuan ingin mengucapkan SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN.




Semoga Ramadhan kali ini dihiasi dengan penuh ibadah tanpa ketinggalan setiap saat.

Semoga Ramadhan kali ini lebih baik daripada tahun lepas.

Ikhlas daripada:
Wanita IKRAM WP.

Thursday, July 21, 2011

BENARKAH KITA KADER DAKWAH???

Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kefahaman yang utuh. Faham akan falsafah dasar perjuangan, faham akan nilai-nilai yang diperjuangkan, faham akan cita-cita yang hendak dicapai, faham akan jalan yang harus dilalui. Kader dakwah memiliki pemahaman yang komprehensif. Faham akan tahapan-tahapan untuk merealisasikan tujuan, faham akan turutan setiap tahapan, faham akan logik tentangan yang menyertai setiap tahapan, faham bahawa di setiap tahapan dakwah memiliki tingkat risiko yang berlainan. Kefahaman kader dakwah terus berkembang.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keikhlasan yang tinggi. Ikhlas ertinya bekerja hanya untuk Allah semata, bukan untuk kesenangan diri sendiri. Sangat banyak godaan di sepanjang perjalanan dakwah, baik berupa harta, kekuasaan dan godaan syahwat terhadap pasangan jenis. Hanya keikhlasan yang akan membuat para kader bisa bersikap dengan tepat menghadapi segala bentuk godaan dan dinamika dakwah. Sangat banyak peristiwa di sepanjang perjalanan dakwah yang menggoda para kader untuk meninggalkan jalan perjuangan. Ikhlas adalah penjaga keberlanjutan dakwah.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki amal yang berkesinambungan. Amal dalam dakwah bukanlah jenis amal yang setengah-setengah, spontan dan tanpa perencanaan. Sejak dari perbaikan diri dan keluarga, hingga upaya perbaikan masyarakat, bangsa, negara bahkan dunia. Amal dalam dakwah memiliki tahapan yang jelas, memiliki tujuan yang pasti, memiliki orientasi yang hakiki. Kader dakwah tidak hanya beramal di satu marhalah dan meninggalkan marhalah lainnya. Kader dakwah selalu mengikuti perkembangan mihwar dalam dakwah, kerana itulah amal yang harus dilalui untuk meretas peradaban.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki etos jihad yang abadi. Jihad dalam bentuk kesungguhan, keseriusan, dan kedisiplinan dalam menggapai visi dakwah yang hakiki. Kesungguhan membela hak-hak umat, kesungguhan mendidik masyarakat, keseriusan mengusahakan kesejahteraan masyarakat, kedisiplinan dan menyelesaikan persoalan kehidupan yang semakin kompleks. Kader dakwah harus memberikan kesungguhan dalam menjalankan semua agenda dakwah, hingga menghasilkan produktiviti yang lengkap dan sempurna, di lahan apapun mereka bekerja. Itulah makna jihad dalam konteks perjalanan aktivitas dakwah.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki pengorbanan yang tak terhingga nilainya. Dakwah tidak mungkin akan bisa dijalankan tanpa pengorbanan. Sejak dari pengorbanan harta, waktu, tenaga, fikiran, fasiliti, hingga pengorbanan jiwa. Rasa lelah, rasa jenuh, rasa letih selalu mendera jiwa raga, kesenangan diri telah dikorbankan demi tetap berjalannya roda dakwah. Aktiviti dijalani sejak berpagi-pagi hingga malam hari. Kadang harus bermalam hingga beberapa lamanya, kadang harus berjalan pada jarak yang tak terukur jauhnya, kadang harus memberikan kontribusi harta pada kondisi diri yang belum mapan dari segi ekonomi. Pengorbanan tanpa jeda (pause), itulah ciri kader dakwah yang setia.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki ketaatan kepada prinsip, keputusan organisasi, dan kepada pemimpin. Prinsip-prinsip dalam dakwah harus dilaksanakan dengan sepenuh ketaatan. Taat kepada foundation manhaj adalah bagian penting yang akan menghantarkan dakwah pada tujuannya yang mulia. Taat kepada keputusan organisasi merupakan syarat agar kegiatan dakwah selalu terbingkai dalam sistem amal jama’i. Taat kepada pemimpin merupakan tuntutan agar pergerakan dakwah berjalan secara efektif pada upaya pencapaian tujuan. Ketaatan bukan hanya terjadi dalam hal-hal yang sesuai dengan pendapat pribadi, namun tetap taat terhadap keputusan walaupun bertentangan dengan pendapatnya sendiri.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki keteguhan tiada henti. Kader dakwah harus selalu tegar di jalan dakwah, kerana perjalanan amatlah panjang dengan berbagai gangguan dan tentangan yang menyertainya. Teramat banyak aktivis dakwah semasa, dimana mereka memiliki semangat yang menyala pada suatu ketika, namun padam seiring berjalannya usia. Ada yang bertahan tatkala mendapat ujian kekurangan harta, namun menjadi gugur saat berada dalam keberlimpahan harta dunia. Ada yang tegar saat dakwah dilakukan di jalanan, namun tidak tahan saat berada di pucuk kekuasaan. Kader dakwah harus berada di puncak kemampuan untuk selalu bertahan.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki kemurnian dan kebersihan dalam orientasi aktivitasnya. Sangat banyak faktor yang mengotori kebersihan orientasi dakwah. Ada kekotoran cara mencapai tujuan. Ada kekotoran dalam usaha mendapatkan harta. Ada kekotoran dalam langkah menggapai kemenangan. Kader dakwah harus selalu menjaga kemurnian orientasinya, tidak berpaling dari kebenaran, tidak terjebak dalam kekotoran. Karena dakwah memiliki visi yang bersih, sehingga harus dicapai dengan langkah dan usaha yang bersih pula.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki solidaritas, persaudaraan dan kebersamaan yang tinggi. Ukhuwah adalah sebuah tuntutan dalam menjalankan agenda-agenda dakwah. Semakin besar tantangan yang dihadapi dalam perjalanan dakwah, harus semakin kuat pula ikatan ukhuwah di antara pelakunya. Kader dakwah saling mencintai satu dengan lainnya, saling menyokong, ssling mendukung, saling menguatkan, saling meringankan beban, saling membantu keperluan, saling berbagi dan saling mencukupi. Kader dakwah tidak mengobarkan dendam, iri dan benci. Kader dakwah selalu membawa cinta, dan menyuburkan dakwah dengan sentuhan cinta.
Benarkah kita kader dakwah ? Kader dakwah itu memiliki tingkat kepercayaan yang tak tertandingi. Berjalan pada rentang waktu yang sangat panjang, dengan tentangan yang semakin kuat menghadang, menghajatkan tingkat kepercayaan prima antara satu dengan yang lainnya. Berbagai isu, berbagai fitnah, berbagai tuduhan tak akan menggoyahkan kepercayaan kader dakwah kepada para pemimpin dan kepada sesama kader dakwah. Berbagai caci maki, berbagai lontaran benci, berbagai pelampiasan kesumat, tak akan mengkerdilkan kepercayaan kader terhadap langkah dakwah yang telah dijalaninya.
Jadi, benarkah kita kader dakwah???

Pak Cah: Terus berusaha. Terus Berkarya. Hingga Akhir Usia.

About

My photo
Ukhuwah Teras Kegemilangan

Tuliskan sebarang pertanyaan/ kemusykilan/ masalah anda di sini:

Nama:
Emel:
Soalan Anda:

Get your own free form like this one.